Awards
BEST INNOVATIVE DIGITAL PRODUCT
WAN-IFRA DIGITAL MEDIA AWARDS ASIA 2024
Podcast Image
Podcast Image
News
Whats Trending
Hadir setiap hari, mengupas hal-hal yang jadi trending topic atau viral di dunia maya. Kami bahas bersama narasumber terkait supaya informasi makin lengkap. Hadir juga di 10 radio di kota besar se-Indonesia.Kami ingin mendengar komentarmu tentang podcast ini, kamu bisa mengirimkannya melalui podcast@kbrprime.id atau dm akun instagram kami di @kbr.id
advertisement
Sebagai destinasi wisata yang dikenal luas hingga mancanegara, Pulau Bali punya potensi besar pariwisata dan ekonominya. Sayangnya, potensi ekonomi ini turut dimanfaatkan oleh turis asing untuk melakukan bisnis ilegal. Baru-baru ini, beberapa turis asing, seperti turis dari Uzbekistan diketahui memasarkan properti secara ilegal melalui Telegram dan turis asing dari Australia menjalankan bisnis spa tanpa izin. Mereka telah dideportasi karena melanggar ketentuan visa.  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sampai buka suara soal maraknya turis asing yang menjalankan bisnis ilegal di Bali. Kemenparekraf menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi bagi turis asing yang menjalankan bisnis di Bali, mengingat banyaknya kasus bisnis ilegal yang merugikan ekonomi lokal dan reputasi Bali sebagai destinasi wisata. Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Nia Niscaya mengatakan, tantangan utama adalah pengawasan dan perlunya kolaborasi antar-pihak untuk menghadapi kompetisi internasional. Lantas, apa pengaruh bisnis ilegal para turis asing di Bali, dan gimana membersihkannya? Kita obrolin ini bareng: Siti Chotijah sebagai Ketua Umum Komunitas Generasi Pesona Indonesia. Di bagian akhir Whats Trending, simak obrolan bareng pemeran series Kartu Keluarga, Oline Mendeng pemeran Tuti, penjual batik keliling nan setia kawan. Juga ada Tora Sudiro yang berperan sebagai Ust. Soleh Bejo, seorang eks residivis yang hijrah jadi penceramah agama yang nyentrik. Obrolan ini kerjasama bareng Vision Plus. Series yang terdiri dari 8 episode berdurasi 42-50 menit setiap episodenya. Genrenya family drama, comedy, cocok tuh ditonton rame-rame! Dan writer dari Kartu Keluarga itu ada Sukhdev Singh, Amorita D. Tak sekedar menulis, Sukhdev Singh juga menyutradarai series ini.
Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga amal ibadah kurban kita diterima oleh Allah SWT. Di hari raya ini, dipastikan persediaan daging berlimpah. Lalu menu apa yang jadi favorit anda untuk disantap? Ada berbagai varian menu yang biasanya jadi pilihan di meja makan.Kalau yang mau direbus atau berkuah ada sop, soto, tongseng atau gulai. Sementara yang digoreng ada empal dan yang dibakar ada sate maupun alternatif lainnya. Pertanyaannya nih, apakah anda menikmati aneka sajian daging itu dengan kalap sepanjang hari? Atau masih bisa kontrol diri?  Pasalnya, dalam beberapa kasus, konsumsi olahan serba daging secara berlebihan berpotensi membahayakan kesehatan seseorang karena berisiko mengalami peningkatan kadar kolesterol pada tubuhnya. Terlebih jika tak tepat cara mengolahnya. Lantas, gimana sih diet yang benar saat kita berhadapan dengan aneka santapan serba daging? Seperti apa konsumsi yang disarankan biar tetap sehat? *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke podcast@kbrprime.id
Beberapa hari yang lalu, Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf, dikenal juga sebagai Gus Yahya, menyatakan bahwa NU telah mempertimbangkan untuk membentuk perusahaan Perseroan Terbatas (PT) guna mengelola konsesi tambang. Pernyataan ini menimbulkan berbagai pandangan, termasuk keraguan terhadap netralitas NU, mengingat hubungannya yang dekat dengan pemerintah. Tindakan NU yang tampak bersemangat dalam mengelola tambang telah memunculkan kekhawatiran di kalangan beberapa anggotanya, terutama di kalangan intelektual muda Nahdliyin. Dinamika ini mencerminkan keragaman pandangan dalam tubuh NU. Bagaimana hal ini berhubungan dengan organisasi keagamaan lainnya? Apakah mereka mengalami dinamika serupa atau memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola masalah serupa?
Assalamualaikum, salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.Lea kali ini ingin menyapa kamu, pendengar setia What’s Trending dengan salam lintas agama. Bikin adem kan ya, karena tiap salam itu bermakna sama, meski berbeda kata-kata. Nah, kenapa sih tumben-tumbenan Lea pake salam lintas agama segala? Ya karena itu yang mau kita bahas, jadi sekalian gitu tebar perdamaian. Nah, belakangan, salam lintas agama ini dipersoalkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui Forum Ijtima Ulama di Bandung, 30 Mei kemarin, MUI menerbitkan fatwa larangan salam lintas agama. Alasannya, salam lintas agama bukanlah implementasi toleransi atau moderasi beragama yang dibenarkan. Karena, salam dalam Islam adalah doa dan bagian dari ibadah. Ketua Pengarah Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia, Asrorun Niam Sholeh bilang salam lintas agama merupakan penggabungan ajaran berbagai agama. Nah, sikap MUI ini memicu perdebatan publik. Nggak sedikit yang khawatir larangan salam lintas agama bakal merusak kerukunan di Indonesia, yang memang beragam. PB NU sih sudah menyatakan berbeda pandangan dengan MUI. Ketua Umum PB NU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan salam tidak selalu masuk kategori ibadah. Jadi pandangan MUI dinilainya tidak tepat. Gus Yahya menekankan salam lintas agama yang disampaikan di forum atau pertemuan merupakan tanda kerukunan antarumat beragama. Nah, gimana ya menyikapi polemik ini?  Perlu nggak sih salam lintas agama dilarang? Apakah larangan ini bakal berdampak pada kerukunan dan toleransi beragama di Indonesia? Kita akan bincangkan hal ini bersama dengan Kaprodi Magister Ilmu Agama Islam Universitas Paramadina, M Subhi Ibrahim dan Direktur Eksekutif Setara Institute, Halili Hasan.*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke podcast@kbrprime.id
Sirine gawat darurat judi online mestinya dinyalain gede-gede deh!!! Soalnya makin banyak aja yang terjerat judol. Dampaknya udah ke mana-mana. Nggak cuma urusan duit ambles seketika, tapi sampe taruhan nyawa. Candu judi online kian menjangkiti banyak kalangan, tak terkecuali aparat hukum, yang mestinya bertugas memberantas judol. Miris nggak sih?Yang masih viral dan terus jadi perbincangan hangat adalah kasus polwan di Mojokerto, Jawa Timur yang membakar suaminya, yang juga seorang polisi, hingga tewas, karena ketahuan main judi slot. Duhh… napa sih pada nggak kapok? Padahal, udah segambreng kasus yang muncul. Dihh.. napa juga pemerintah sulit banget ngeblokir situs-situs judol itu ya? Bukannya sering di-mention judol itu merugikan negara. Angkanya besar banget lho di 2023, kisarannya Rp107-138 triliun setahun. Bisa bikin apa aja tuh dengan duit segede itu?Kementerian Komunikasi dan Informatika ngakunya sih udah memblokir jutaan situs judol, tapi situs-situs barunya juga terus menjamur. Selalu selangkah di belakang kayaknya ya geraknya aparat nih. Nah, ada nggak terobosan lain yang bisa ditempuh untuk memberantas judol? Otoritas Jasa Keuangan OJK bilang perbankan berperan peran penting di misi ini. Bank sudah memblokir 4.900-an rekening terkait judol. Terus, hal apa lagi yang bisa dilakukan perbankan untuk memerangi judol *Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke podcast@kbrprime.id
advertisement
Podcast Lainnya